
Sebagaimana dilansir BBC Indonesia, sebuah tim kecil, termasuk informan AS di dalam pemerintahan Venezuela, mengamati secara detail kehidupan sehari-hari Maduro—mulai dari tempat ia tidur, makanan yang dikonsumsi, pakaian yang dikenakan, hingga kebiasaan pribadinya.
Pemantauan intensif tersebut berujung pada pelaksanaan misi rahasia bertajuk “Operasi Absolute Resolve”, yang diselesaikan pada awal Desember. Operasi ini merupakan hasil perencanaan dan latihan berbulan-bulan oleh pasukan elit AS, termasuk pembuatan replika rumah persembunyian Maduro di Caracas untuk simulasi penyergapan.
Intervensi militer ini disebut sebagai salah satu operasi AS paling luar biasa di Amerika Latin sejak Perang Dingin. Rencana tersebut dijaga sangat rahasia—bahkan Kongres AS tidak diberi tahu atau dikonsultasikan sebelumnya.
Menunggu Momen Terbaik

Menurut pejabat militer AS, peluncuran operasi sengaja menunggu kondisi optimal untuk memaksimalkan unsur kejutan. Upaya awal sempat direncanakan empat hari sebelumnya, namun ditunda karena faktor cuaca.
“Selama beberapa pekan menjelang Natal dan Tahun Baru, personel militer AS berada dalam kondisi siaga penuh, menunggu perintah presiden,” ujar Jenderal Dan Caine, perwira militer tertinggi AS, dalam konferensi pers Sabtu (03/01/2026).
Sebelum operasi militer dimulai, Presiden Donald Trump juga memerintahkan CIA melakukan operasi rahasia di Venezuela. Keterlibatan CIA ini kembali mengingatkan publik pada sejarah panjang badan intelijen tersebut dalam upaya menjatuhkan pemerintahan asing.
Perintah Presiden dan Serangan Dimulai

Perintah resmi dari Presiden Trump untuk memulai misi dikeluarkan pada Jumat pukul 22.46 EDT (Sabtu 09.46 WIB), sesaat sebelum tengah malam di Caracas.
“Kami siap beberapa hari sebelumnya, tetapi ketika kesempatan itu benar-benar terbuka, kami langsung bergerak,” kata Trump kepada Fox & Friends.
Operasi berlangsung selama sekitar dua jam 20 menit, melibatkan serangan melalui udara, darat, dan laut. Trump memantau jalannya operasi secara langsung dari Mar-a-Lago, Florida, bersama Direktur CIA John Ratcliffe dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
“Sungguh luar biasa untuk disaksikan. Seperti menonton acara televisi—kecepatannya, kekuatannya, sangat menakjubkan,” ujar Trump.
Skala Operasi Militer

Dalam beberapa bulan terakhir, AS telah mengerahkan ribuan pasukan di sekitar Venezuela, termasuk satu kapal induk dan puluhan kapal perang. Pada malam operasi, lebih dari 150 pesawat—termasuk pembom, jet tempur, dan pesawat pengintai—dikerahkan.
Ledakan keras terdengar di Caracas sekitar pukul 02.00 waktu setempat. Kepulan asap terlihat di sejumlah titik kota, disertai aktivitas helikopter dan pesawat tempur di udara. Warga melaporkan jendela bergetar dan kota sempat dilanda pemadaman listrik.
BBC Verify mengonfirmasi sedikitnya lima lokasi strategis yang menjadi sasaran, termasuk Pangkalan Udara La Carlota dan Pelabuhan La Guaira. Sejumlah serangan dilaporkan menargetkan sistem pertahanan udara dan fasilitas militer Venezuela.
Penangkapan Maduro

Di tengah serangan udara, pasukan darat AS—termasuk anggota Delta Force—memasuki Caracas dan menuju rumah persembunyian Maduro. Pasukan membawa persenjataan berat dan peralatan khusus untuk menembus pintu baja.
Menurut Jenderal Caine, pasukan tiba di lokasi sekitar pukul 02.01 waktu setempat. Mereka sempat mendapat perlawanan, dan satu helikopter AS dilaporkan terkena tembakan, meski masih bisa terbang.
Trump mengatakan Maduro berusaha melarikan diri ke ruang aman, namun gagal.
“Dia tidak sempat menutup pintunya. Pasukan kami bergerak terlalu cepat,” kata Trump.
Dalam operasi tersebut, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, berhasil ditangkap. Di pihak AS, beberapa personel mengalami luka, namun tidak ada korban jiwa.
Dibawa ke AS, Reaksi Dunia Mengalir

Sekitar pukul 04.20 waktu setempat, helikopter yang membawa Maduro dan istrinya meninggalkan wilayah Venezuela menuju Amerika Serikat. Keduanya ditetapkan sebagai tahanan Departemen Kehakiman AS dan dibawa ke New York untuk menghadapi tuntutan pidana. Sebelumnya, AS menawarkan hadiah sebesar 50 juta dolar AS bagi informasi yang mengarah pada penangkapan Maduro.
Satu jam kemudian, Trump mengumumkan penangkapan tersebut kepada publik dunia.
“Maduro dan istrinya akan menghadapi kekuatan penuh keadilan Amerika,” ujarnya.
Namun, operasi ini menuai kecaman internasional. Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva menyebut penangkapan tersebut sebagai “preseden yang sangat berbahaya.” Sementara itu, PBB menyatakan keprihatinan mendalam atas operasi militer AS di Venezuela dan menilai langkah tersebut berpotensi melanggar hukum internasional.
Kolombia, dengan dukungan Rusia dan China, meminta digelarnya pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB untuk membahas dampak operasi tersebut.(karodaily/BBCIndonesia).









