Ketika Kabanjahe Tak Lagi Ramah bagi Anak, Nyawa Remaja Tiga Binanga Melayang di Malam Tahun Baru

KARODAILY.id, Kabanjahe – Kota Kabanjahe yang selama ini dikenal sebagai pusat aktivitas masyarakat Kabupaten Karo kembali tercoreng. Di tengah perayaan pergantian Tahun Baru 2026, ruang publik yang seharusnya aman justru berubah menjadi lokasi maut bagi seorang anak.
Rojer Valentino Sebayang (13), remaja asal Desa Perlamben, Kecamatan Tiga Binanga, meregang nyawa setelah diduga menjadi korban salah sasaran tawuran antar kelompok remaja di sekitar Tugu Bambu Runcing, Jalan Veteran, Kelurahan Kampung Dalam, Kota Kabanjahe, Kamis (01/01/2026) dini hari.
Peristiwa ini bukan sekadar tragedi kriminal, melainkan cermin buram kondisi keamanan Kota Kabanjahe yang kian dipertanyakan, terutama bagi anak-anak dan remaja yang hanya ingin menikmati ruang kota secara wajar.
Berdasarkan informasi yang beredar di publik dan media sosial, Rojer bersama lima temannya berangkat dari Tiga Binanga menuju Kota Kabanjahe untuk menonton pesta kembang api Tahun Baru. Niat mereka sederhana: merayakan pergantian tahun seperti anak-anak lain seusianya.
Namun, suasana kota pada malam itu justru jauh dari rasa aman. Saat melintas di kawasan Tugu Bambu Runcing, rombongan remaja tersebut diduga terjebak di tengah aksi tawuran geng remaja. Meski telah menyampaikan bahwa mereka hanya penonton dan berasal dari Tiga Binanga, kelompok lain kembali mengejar korban.
Tanpa peringatan, Rojer diduga dilempari hingga terjatuh dari sepeda motor yang ditumpanginya. Ia kemudian mengalami pengeroyokan brutal. Luka parah di bagian kepala membuat nyawanya tak tertolong.
Duka mendalam menyelimuti keluarga korban. Di depan kamar jenazah RSU Kabanjahe, ibu kandung Rojer tak kuasa menahan tangis saat menceritakan detik-detik terakhir anak sulungnya.
“Sore sebelum berangkat, dia izin beli popcorn untuk adik-adiknya. Dia juga beli roti kesukaannya. Roti itu masih di tangannya saat sampai di rumah sakit,” ujarnya lirih.
Sekitar pukul 01.00 WIB, usai doa bersama menyambut Tahun Baru, Rojer berpamitan. Ia menerima uang Rp30 ribu dari ibunya. Tak ada firasat buruk, tak ada tanda bahaya.
“Itu terakhir kali suara anakku kudengar,” katanya dengan suara bergetar.
Empat jam kemudian, keluarga menerima kabar duka: Rojer meninggal dunia akibat luka berat di kepala. Sebuah akhir tragis yang menimbulkan pertanyaan besar—sejauh mana kota ini aman bagi anak-anaknya?
Kematian Rojer Valentino Sebayang juga menjadi pengingat pahit bahwa Kota Kabanjahe tengah menghadapi krisis keamanan ruang publik. Ketika seorang anak yang hanya ingin menonton kembang api harus pulang dalam peti jenazah, maka yang patut dipertanyakan bukan hanya pelaku, tetapi juga sistem keamanan kota itu sendiri.
Tragedi ini meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat Kabupaten Karo, sekaligus menjadi alarm keras: Kabanjahe harus kembali menjadi kota yang ramah, aman, dan melindungi anak-anaknya—bukan kota yang merenggut masa depan mereka.
Hingga sejumlah papan bunga pun tampak berdiri di sekitar Mapolres Tanah Karo di Kabanjahe. Publik meminta kecepatan polisi untuk mengungkap kasus ini.
Tokoh masyarakat Karo asal Tiga Binanga, Heri Sebayang, di media sosial, menyebut kasus ini sebagai kegagalan kolektif dalam melindungi anak.
“Ini bukan sekadar kriminalitas biasa. Ini kekerasan berat terhadap anak. Kami mendesak Polres Tanah Karo mengusut tuntas dan menangkap semua pelaku. Polda Sumut hingga Mabes Polri harus ikut mengawasi agar tidak ada pembiaran,” tegasnya.
Sedangkan, informasi yang diperoleh KARODAILY.id dari sumber di Polres Tanah Karo menyebut aparat kepolisian masih berupaya menyelidiki kasus ini. (karodaily/nanang)









