GODA OPUNG, Inovasi Puskesmas Simpang Empat Jemput Dahak Warga untuk Percepat Penanganan TBC

KARODAILY.id, Simpang Empat — Menemukan penderita Tuberkulosis (TBC) tidak selalu harus menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan. Di Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Puskesmas Simpang Empat justru mendatangi masyarakat melalui inovasi GODA OPUNG, atau “Jemput Dahak, Obati sampai Rampung.”

Inovasi ini dirancang untuk menjawab salah satu persoalan dalam penanggulangan TBC, yakni masih rendahnya kesediaan masyarakat untuk menyerahkan sampel dahak setelah mendapatkan arahan pemeriksaan dari tenaga kesehatan.
Kepala Puskesmas Simpang Empat, dr. Jingkat Tarigan, M.K.M, mengatakan GODA OPUNG lahir dari kebutuhan untuk membuat proses penemuan kasus TBC lebih mudah dijangkau masyarakat.
“Selama ini salah satu kendalanya adalah masyarakat masih kurang memahami tentang TBC, termasuk bahayanya, cara pencegahan, pemeriksaan dan pentingnya pengobatan sampai tuntas. Karena itu, kami mencoba mendekatkan pelayanan kepada masyarakat melalui GODA OPUNG,” ujar dr. Jingkat Tarigan.
Puskesmas Simpang Empat merupakan fasilitas kesehatan tingkat pertama kategori pedesaan rawat jalan yang berada di Jalan Kiras Bangun No.123, Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat.
Sepanjang 2024, fasilitas kesehatan tersebut mencatat 14.131 kunjungan pasien, terdiri dari 13.584 pasien peserta BPJS dan 542 pasien umum.
Dengan jumlah penduduk di wilayah pelayanan sekitar 24.000 jiwa, sasaran penemuan suspek TBC dalam satu tahun ditetapkan sebanyak 445 orang. Namun, pada 2024 baru 225 orang atau sekitar 43,4 persen yang berhasil ditemukan dan diperiksa.
Angka tersebut menjadi salah satu dasar Puskesmas Simpang Empat untuk mencari pola pelayanan yang lebih aktif.
Jika sebelumnya masyarakat yang mengalami gejala harus datang dan menyerahkan sampel dahak ke fasilitas kesehatan, melalui GODA OPUNG proses tersebut dapat dilakukan dengan melibatkan jejaring kesehatan di desa.
Warga yang mengalami batuk lebih dari satu minggu akan diarahkan untuk melakukan pemeriksaan dahak. Pengambilan sampel dilakukan dalam rentang 8 hingga 24 jam menggunakan sistem Sewaktu-Sewaktu (SS) dan Sewaktu-Pagi (SP).
Kader TBC dan bidan desa menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Setelah sampel dahak dikumpulkan, kader atau bidan desa menginformasikannya kepada petugas GODA OPUNG di Puskesmas.
Koordinasi dilakukan melalui grup WhatsApp GODA OPUNG Puskesmas Simpang Empat. Dengan cara ini, informasi mengenai warga yang membutuhkan pemeriksaan dapat segera diteruskan kepada petugas sehingga sampel dapat ditindaklanjuti.

“Jadi kami tidak hanya menunggu pasien datang. Kader dan bidan desa ikut membantu menemukan warga yang memiliki gejala, kemudian kami koordinasikan pengambilan dan pemeriksaan dahaknya. Ini yang kami harapkan bisa membuat penemuan kasus lebih cepat,” kata dr. Jingkat.
Setelah pemeriksaan dilakukan, hasilnya kembali diinformasikan melalui grup koordinasi. Bagi warga yang dinyatakan positif TBC, petugas kemudian mengarahkan pasien untuk mendapatkan pengobatan di Puskesmas.
Pasien juga dapat memanfaatkan layanan pendaftaran secara online sehingga proses pelayanan dapat dilakukan dengan lebih mudah.
Namun, inovasi GODA OPUNG tidak berhenti pada proses menemukan penderita.
Sesuai namanya, “Obati sampai Rampung”, pasien yang telah teridentifikasi positif TBC diarahkan untuk menjalani pengobatan sesuai program dan dipantau agar pengobatan dapat berlangsung secara teratur hingga selesai.
“Target kami bukan hanya menemukan pasien. Setelah ditemukan, pasien harus mendapatkan pengobatan dan mengikuti pengobatan sampai selesai. Karena itu, bagian ‘Obati sampai Rampung’ dalam GODA OPUNG juga sangat penting,” tegasnya.
Menurutnya, keberadaan kader dan bidan desa menjadi salah satu kunci dalam menjalankan inovasi tersebut. Mereka menjadi penghubung antara masyarakat dengan Puskesmas, terutama bagi warga yang masih enggan atau kesulitan datang langsung untuk menyerahkan sampel dahak.
Pendekatan tersebut juga membuat upaya penanggulangan TBC tidak hanya menjadi tanggung jawab Puskesmas, tetapi melibatkan jejaring kesehatan hingga tingkat desa.
“Harapannya masyarakat tidak lagi merasa takut atau malu untuk memeriksakan diri. Kalau ada gejala yang mengarah ke TBC, segera sampaikan kepada petugas kesehatan atau kader. Semakin cepat ditemukan, semakin cepat pula pengobatan bisa dilakukan,” katanya.
GODA OPUNG menjadi contoh bahwa inovasi pelayanan kesehatan tidak selalu harus menggunakan teknologi yang kompleks. Pemanfaatan komunikasi melalui WhatsApp, ditambah keterlibatan kader dan bidan desa, digunakan untuk memperpendek jarak antara masyarakat dengan pelayanan kesehatan.
Bagi Puskesmas Simpang Empat, inovasi tersebut sekaligus menjadi upaya mengubah pola pelayanan dari sekadar menunggu pasien datang menjadi aktif menemukan pasien.
Dahak dijemput, sampel diperiksa, hasil disampaikan, pengobatan dimulai, kemudian pasien terus diarahkan hingga pengobatan selesai.
Dari sebuah langkah sederhana tersebut, Puskesmas Simpang Empat berupaya memperkuat penemuan kasus TBC sekaligus memastikan warga yang terdiagnosis mendapatkan penanganan secara terarah.(karodaily/rill//nanang).








