Thursday, 29 October 2026
kontak@karodaily.id
FokusKaro Raya

Puskesmas Singa Hadirkan Inovasi “LUSA ASIEK”, Perkuat Peran Keluarga Tingkatkan ASI Eksklusif

Puskesmas Singa beri Sertifikat Lulus ASI Ekskusif kepada ibu menyusui di Desa Singa.(ist)

KARODAILY.id, Kabanjahe – Pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi merupakan salah satu langkah penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal. Selain menjadi sumber nutrisi utama, ASI juga berperan dalam mendukung sistem kekebalan tubuh bayi serta menjadi fondasi penting bagi kesehatan anak pada masa mendatang.

Namun, upaya meningkatkan cakupan pemberian ASI eksklusif masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk di wilayah kerja Puskesmas Singa, Kabupaten Karo. Cakupan ASI eksklusif di wilayah tersebut belum mencapai target yang ditetapkan. Kondisi ini menunjukkan perlunya penguatan edukasi, pendampingan, serta dukungan berkelanjutan agar semakin banyak bayi memperoleh ASI eksklusif hingga berusia enam bulan.

Kepala Puskesmas Singa, dr. Eva Fransiska Br Tarigan, menjelaskan bahwa keberhasilan pemberian ASI eksklusif tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan dan kesiapan ibu, tetapi juga dipengaruhi oleh dukungan lingkungan keluarga.

Dalam praktiknya, ibu menyusui membutuhkan dukungan dari suami dan anggota keluarga lainnya, baik secara emosional maupun melalui bantuan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Dukungan keluarga dinilai penting agar ibu lebih percaya diri dan mampu menjalani proses menyusui dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada ibu, tetapi juga melibatkan keluarga sejak masa kehamilan.

Berdasarkan kondisi tersebut, Puskesmas Singa menghadirkan inovasi “LUSA ASIEK” atau “Keluarga Sadar ASI Eksklusif”. Program ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran keluarga mengenai pentingnya pemberian ASI eksklusif sekaligus mendorong keterlibatan aktif anggota keluarga dalam mendukung keberhasilan ibu menyusui.

“Melalui inovasi ‘LUSA ASIEK’, kami ingin meningkatkan kesadaran keluarga bahwa keberhasilan pemberian ASI eksklusif bukan hanya menjadi tanggung jawab ibu, tetapi juga membutuhkan dukungan dari suami dan seluruh anggota keluarga,” ujar dr. Eva Fransiska Br Tarigan.

Inovasi “LUSA ASIEK” (Keluarga Sadar ASI Eksklusif)

Inovasi LUSA ASIEK milik Puskesmas Singa.(ist)

“LUSA ASIEK” merupakan inovasi yang menyasar keluarga dengan ibu hamil trimester III serta keluarga yang memiliki bayi berusia 0–6 bulan. Melalui program ini, ibu dan anggota keluarga diberikan pengetahuan serta keterampilan mengenai pemberian ASI eksklusif, sehingga keluarga tidak hanya memahami manfaat ASI, tetapi juga mampu memberikan dukungan nyata selama masa menyusui.

Pendekatan yang diterapkan dalam inovasi “LUSA ASIEK” menempatkan keluarga sebagai bagian penting dalam keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Keterlibatan keluarga diharapkan mampu membangun lingkungan yang mendukung ibu sejak masa kehamilan, persalinan, hingga bayi berusia enam bulan.

Pelaksanaan inovasi ini dimulai ketika ibu menjalani pemeriksaan kehamilan pada trimester III. Ibu hamil didorong untuk hadir bersama anggota keluarga agar persiapan menyusui dapat dipahami dan dilakukan secara bersama-sama sebelum bayi dilahirkan.

Pada kesempatan tersebut, ibu hamil dan anggota keluarga mendapatkan edukasi serta sosialisasi mengenai Inisiasi Menyusu Dini (IMD), teknik menyusui yang baik dan benar, serta pijat oksitosin.

Materi edukasi disampaikan menggunakan media leaflet dan alat peraga agar lebih mudah dipahami serta dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui metode tersebut, keluarga diharapkan memiliki pemahaman yang memadai mengenai cara mendukung ibu selama proses menyusui.

Salah satu keunggulan inovasi “LUSA ASIEK” adalah pemanfaatan teknologi sederhana melalui kode batang atau barcode yang tersedia pada leaflet. Kode tersebut dapat dipindai untuk menampilkan video tutorial pijat oksitosin, sehingga anggota keluarga dapat mempelajari teknik tersebut secara praktis sesuai arahan tenaga kesehatan.

Pijat oksitosin merupakan salah satu bentuk dukungan yang dapat diberikan kepada ibu menyusui untuk membantu merangsang refleks pengeluaran ASI. Dengan pengetahuan tersebut, anggota keluarga diharapkan mampu memberikan dukungan yang tepat kepada ibu selama masa menyusui.

Edukasi dalam program “LUSA ASIEK” tidak hanya dilaksanakan saat pemeriksaan kehamilan, tetapi juga melalui kegiatan posyandu di desa setiap bulan, khususnya dalam kelas ibu hamil.

Kegiatan ini menjadi sarana untuk memperkuat pemahaman ibu dan keluarga mengenai pentingnya ASI eksklusif. Selain mendapatkan informasi, peserta juga memiliki kesempatan untuk memperdalam pengetahuan serta mempersiapkan diri menghadapi persalinan dan proses menyusui.

Setelah persalinan, pelaksanaan IMD menjadi salah satu tahapan penting dalam mendukung keberhasilan pemberian ASI. Pada tahap ini, anggota keluarga juga diberikan sosialisasi agar memahami peran mereka dalam mendukung ibu memberikan ASI eksklusif.

Pendampingan kemudian dilanjutkan melalui pemantauan selama enam bulan pertama kehidupan bayi. Tahapan ini menjadi bagian penting dalam inovasi “LUSA ASIEK” karena keberhasilan pemberian ASI eksklusif membutuhkan komitmen, konsistensi, dan dukungan yang berkesinambungan.

Melalui pemantauan tersebut, ibu diharapkan tidak merasa sendirian dalam menjalani proses menyusui. Keluarga dapat membantu menciptakan suasana yang nyaman, memberikan dorongan moral, serta membantu ibu menghadapi berbagai tantangan selama memberikan ASI.

Sebagai bentuk apresiasi, keluarga yang berhasil memberikan ASI eksklusif selama enam bulan akan memperoleh penghargaan berupa Sertifikat Lulus ASI Eksklusif.

Pemberian sertifikat tersebut diharapkan menjadi bentuk penghargaan atas komitmen ibu dan keluarga dalam memenuhi kebutuhan nutrisi bayi. Selain itu, penghargaan ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi keluarga lain untuk turut mendukung peningkatan cakupan ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Singa.

Dukungan keluarga, kunci keberhasilan

Ilustrasi hasil inovasi Puskesmas Singa.(ist)

Keterlibatan keluarga menjadi salah satu aspek utama dalam pelaksanaan inovasi “LUSA ASIEK”. Ibu menyusui membutuhkan dukungan yang tidak hanya berupa pemahaman mengenai manfaat ASI, tetapi juga bantuan nyata dalam menghadapi berbagai tantangan selama masa menyusui.

Suami dan anggota keluarga lainnya dapat berperan dengan memberikan semangat, membantu pekerjaan rumah tangga, menciptakan suasana yang nyaman, serta memberikan kesempatan kepada ibu untuk beristirahat dan berfokus pada kebutuhan bayi.

Selain itu, pemahaman keluarga mengenai teknik menyusui, IMD, dan pentingnya pemberian ASI eksklusif dapat membantu mengurangi kesalahpahaman yang berpotensi memengaruhi keputusan ibu dalam memberikan ASI kepada bayinya.

Melalui “LUSA ASIEK”, keluarga diharapkan tidak lagi memandang pemberian ASI eksklusif sebagai tanggung jawab ibu semata, melainkan sebagai tanggung jawab bersama yang membutuhkan perhatian dan dukungan seluruh anggota keluarga.

Keterlibatan keluarga sejak masa kehamilan juga menjadi langkah untuk membangun kesiapan bersama. Dengan memahami manfaat ASI eksklusif dan mengetahui cara memberikan dukungan yang tepat, keluarga diharapkan mampu membantu ibu mempertahankan pemberian ASI hingga bayi berusia enam bulan.

Pendekatan ini sekaligus memperkuat peran tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Melalui pemeriksaan kehamilan, kelas ibu hamil, kegiatan posyandu, hingga pemantauan setelah persalinan, edukasi dapat diberikan secara berkelanjutan.

Dengan demikian, inovasi “LUSA ASIEK” tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga mendorong terbentuknya perilaku dan kebiasaan keluarga yang mendukung keberhasilan menyusui.

Langkah Kecil, Dampak Besar

Melalui inovasi “LUSA ASIEK”, Puskesmas Singa berupaya menghadirkan pendekatan pelayanan kesehatan yang lebih partisipatif dengan menjadikan keluarga sebagai mitra dalam meningkatkan cakupan pemberian ASI eksklusif.

Program ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan ibu dan keluarga, memperkuat keterampilan dalam mendukung proses menyusui, serta mendorong terbentuknya kebiasaan positif dalam pemenuhan kebutuhan gizi bayi sejak awal kehidupan.

Peningkatan cakupan ASI eksklusif tidak hanya menjadi tujuan jangka pendek, tetapi juga bagian dari upaya mendukung peningkatan kualitas kesehatan generasi mendatang.

Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama perlu dilanjutkan dengan pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang sesuai mulai usia enam bulan, sembari tetap meneruskan pemberian ASI hingga usia dua tahun atau lebih sesuai kebutuhan anak.

Keberhasilan inovasi “LUSA ASIEK” membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari tenaga kesehatan, pemerintah desa, kader posyandu, ibu hamil, ibu menyusui, hingga anggota keluarga. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang semakin mendukung praktik pemberian ASI eksklusif di tengah masyarakat.

“LUSA ASIEK” menjadi salah satu upaya Puskesmas Singa dalam membangun kesadaran masyarakat melalui edukasi yang mudah dipahami, keterlibatan keluarga, dan pendampingan berkelanjutan.

Dengan pengetahuan yang tepat serta dukungan keluarga yang kuat, para ibu diharapkan semakin percaya diri dalam memberikan ASI eksklusif kepada bayinya.

Pada akhirnya, melalui inovasi “LUSA ASIEK”, Puskesmas Singa berharap kesadaran masyarakat mengenai pentingnya ASI eksklusif semakin meningkat, sehingga semakin banyak bayi mendapatkan manfaat optimal dari ASI dan memiliki fondasi kesehatan yang lebih baik untuk tumbuh dan berkembang.(karodaily/nanang). (KARODAILY/rill)

 

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.