
KARODAILY.id, Karo – Mahasiswa Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Medan mengembangkan paket wisata Terraced Scenic Route (TSR) melalui kegiatan Field Project Study (FPS) di Desa Sugihen, Kecamatan Juhar, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, pada 20–21 Oktober 2026. Program ini mengangkat potensi sawah terasering, kekayaan budaya Karo, dan kehidupan masyarakat lokal sebagai bagian dari pengembangan produk pariwisata berbasis desa.

Mengusung tema “From Attraction to Experience”, paket wisata TSR dirancang untuk menghadirkan pengalaman perjalanan yang tidak hanya menawarkan keindahan panorama alam, tetapi juga mengajak wisatawan mengenal karakteristik, tradisi, dan kehidupan masyarakat Desa Sugihen.
Perwakilan tim FPS Poltekpar Medan di Desa Sugihen, Joanna, menjelaskan bahwa kegiatan Field Project Study menjadi sarana bagi mahasiswa untuk menerapkan pembelajaran berbasis lapangan, mulai dari mengidentifikasi potensi destinasi, merancang aktivitas wisata, hingga mengemas daya tarik lokal menjadi produk perjalanan dengan tema dan alur kunjungan yang terstruktur.
Daya tarik utama paket TSR adalah Sabah (sawah) Sugihen, hamparan sawah terasering yang membentuk undakan mengikuti kontur perbukitan. Lanskap persawahan ini menyuguhkan panorama khas pedesaan sekaligus memperlihatkan keterkaitan antara alam, aktivitas pertanian, dan kehidupan masyarakat Karo.
Potensi tersebut dikemas melalui konsep Terraced Scenic Route, yakni rute wisata yang mengarahkan pengunjung menikmati panorama persawahan melalui sejumlah titik pandang yang telah ditentukan. Konsep ini dirancang untuk menjadikan keindahan alam sebagai bagian dari pengalaman perjalanan yang lebih terarah.
Salah satu aktivitas utama dalam paket wisata tersebut adalah Village Walk, yaitu perjalanan berjalan kaki menyusuri kawasan Desa Sugihen menuju tiga titik pandang atau viewpoint. Dari setiap titik, wisatawan dapat menikmati panorama sawah terasering dengan sudut pandang berbeda.

Sepanjang perjalanan, wisatawan juga berkesempatan mengamati suasana perdesaan, mengenal lingkungan sekitar, dan melihat aktivitas pertanian masyarakat. Dengan demikian, pengalaman wisata tidak hanya berfokus pada panorama, tetapi juga memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk mengenal kehidupan masyarakat yang menjadi bagian dari karakter destinasi.
Selain mengangkat potensi alam, paket TSR turut memperkenalkan kebudayaan Karo melalui pertunjukan tari persembahan sebagai bagian dari tradisi penyambutan tamu. Pertunjukan tersebut mencerminkan penghormatan dan keramahan masyarakat kepada pengunjung.
Pengalaman budaya ini dilengkapi dengan pengenalan alat musik tradisional Karo yang dibuat oleh pengrajin lokal Desa Sugihen. Melalui kegiatan tersebut, wisatawan dapat mengenal bentuk alat musik, proses pembuatannya, serta nilai budaya yang terkandung dalam keterampilan tradisional masyarakat.
Keterlibatan pelaku seni dan pengrajin lokal menjadi bagian penting dalam pengembangan paket wisata TSR. Selain memperkaya pengalaman pengunjung, kegiatan ini membuka ruang untuk memperkenalkan keterampilan masyarakat sekaligus mendukung pelestarian warisan budaya Karo.
Perpaduan aktivitas Village Walk, panorama sawah terasering, pertunjukan tari persembahan, dan pengenalan alat musik tradisional membentuk rangkaian pengalaman wisata yang mengintegrasikan unsur alam dan budaya. Pendekatan ini menempatkan potensi lokal sebagai identitas utama dalam pengemasan produk wisata Desa Sugihen.

Dalam sektor kepariwisataan, penyusunan tour package tidak sekadar menggabungkan sejumlah objek kunjungan, tetapi juga mencakup perancangan tema, rute, dan rangkaian aktivitas yang saling mendukung untuk membentuk pengalaman perjalanan. Melalui TSR, mahasiswa Poltekpar Medan berupaya menerapkan pendekatan tersebut dengan mengolah potensi desa menjadi produk wisata yang memiliki karakteristik tersendiri.
Kegiatan Field Project Study ini sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami proses identifikasi, pengembangan, dan pengemasan potensi destinasi secara langsung. Melalui keterlibatan di lapangan, mahasiswa dapat menerapkan pengetahuan kepariwisataan sekaligus mempelajari peluang pengembangan produk wisata sesuai karakteristik daerah.
Pengembangan paket wisata berbasis desa juga membuka peluang keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pariwisata, baik melalui pertunjukan seni, kerajinan tradisional, maupun pengenalan aktivitas perdesaan. Pelibatan masyarakat diharapkan dapat mendukung keberlanjutan destinasi sekaligus memperluas promosi budaya lokal.
Keberlanjutan pengembangan TSR memerlukan pengelolaan yang memperhatikan kelestarian lingkungan, penghormatan terhadap tradisi, kenyamanan wisatawan, serta partisipasi masyarakat setempat.
Melalui Terraced Scenic Route, mahasiswa Poltekpar Medan memperkenalkan Desa Sugihen bukan hanya sebagai kawasan dengan panorama sawah terasering, tetapi juga sebagai destinasi yang menawarkan perpaduan lanskap alam, aktivitas pertanian, seni tradisional, dan kehidupan masyarakat Karo.
Dengan semangat “From Attraction to Experience”, pengembangan paket wisata TSR diharapkan dapat memperluas pengenalan potensi Desa Sugihen sekaligus mendukung pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di Kabupaten Karo.(karodaily/rill)








