Bupati Karo dan Wakil Bupati Karo semarakkan tradisi Ndurung di Embung Talimbaru, Kecamatan Barus Jahe.(ist)
KARODAILY.id, Talimbaru – Riuh tawa warga berpadu dengan percik air embung, ketika Bupati Karo Brigjen Pol (Purn) Dr.dr. Antonius Ginting, Sp.OG, M.Kes bersama Wakil Bupati Karo Komando Tarigan,SP turun langsung memeriahkan tradisi ndurung ikan di Embung Talimbaru, Desa Talimbaru, Kecamatan Barus Jahe, Jumat (20/02/2026).
Di bawah langit Talimbaru yang cerah, warga dari berbagai usia berkumpul mengelilingi embung. Tradisi tahunan ini bukan sekadar pesta rakyat, tetapi menjadi ruang kebersamaan yang sarat makna—sebuah ungkapan syukur atas berkah alam yang terus menghidupi desa.
Momen paling dinanti pun tiba. Bupati dan Wakil Bupati Karo melepaskan ikan nila ke dalam embung. Seketika, sorak kegembiraan pecah. Warga lalu turun bersama-sama menjaring ikan, menciptakan suasana hangat yang mempersatukan—tanpa sekat usia, status, maupun latar belakang.
Bagi masyarakat Talimbaru, ndurung adalah warisan yang hidup. Tradisi ini bukan hanya soal menangkap ikan, tetapi juga tentang menjaga hubungan antarsesama dan merawat alam sebagai sumber penghidupan.
Pemerintah Kabupaten Karo pun mengajak masyarakat untuk terus menjaga kelestarian embung sebagai ruang kebersamaan sekaligus sumber kehidupan desa.
Masyarakat Desa Talimbaru bersuka cita ikuti tradisi Ndurung di Embung desa.(ist)
Makna ndurung juga dipotret secara reflektif oleh Theopilus Tarigan dalam tulisannya berjudul “Ndurung, Healing Berbasis Kearifan Lokal yang Ramah Lingkungan pada Suku Karo” di Kompasiana (edisi 16 Juli 2023).
Dalam tulisannya, ndurung digambarkan sebagai aktivitas menjaring ikan-ikan kecil menggunakan jaring sederhana yang disebut durung—atau dikenal pula dengan sebutan tanggok.
Ikan yang biasa diperoleh saat ndurung di persawahan antara lain yang oleh masyarakat Karo disebut kaperas dan silau-silau. Selain ikan, beragam serangga air yang dapat dikonsumsi, seperti cibet dan singkai, juga kerap menjadi hasil tangkapan.
Seluruh hasil ndurung kemudian dimasak bersama dalam satu sajian khas pedesaan, berupa gulai ikan berbumbu rempah yang dikenal dengan sebutan tangas-tangas. Hidangan sederhana itu menjadi simbol kebersamaan—lebih nikmat disantap beramai-ramai, ditemani nasi hangat dan cerita-cerita warga.
Tradisi ndurung masih terus dilaksanakan setiap tahun menjelang pesta adat kerja tahun. Bagi masyarakat Karo, kerja tahun merupakan perayaan syukur atas hasil panen—sebuah identitas kolektif yang menegaskan ikatan masyarakat Karo sebagai satu entitas etnik, baik secara teritorial, historikal, sosial, maupun kultural, yang sejak lama hidup di wilayah pegunungan dataran tinggi Sumatera Utara.
Di Talimbaru, ndurung bukan sekadar kenangan masa lalu. Ia adalah cara masyarakat menjaga akar budaya, merawat alam, dan menanamkan rasa kebersamaan agar terus tumbuh dari satu generasi ke generasi berikutnya.(karodaily/nanang).