Kerja Hingga Dinihari, Bupati Karo Dorong Penguatan Kapasitas Petani Hortikultura dari Hulu ke Hilir Lewat Proyek HDDAP

KARODAILY.id, Kabanjahe – Bupati Karo, Brigjen Pol (Purn) Dr. dr. Antonius Ginting, Sp.OG., M.Kes., menegaskan komitmennya dalam mendorong keberhasilan program Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP) sebagai langkah strategis untuk memperkuat sektor hortikultura di Kabupaten Karo.
Komitmen tersebut disampaikan saat pertemuan dengan Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian RI, Freddy, S.T.P., M.Sc., M.P.S., Ph.D., di Rumah Dinas Bupati Karo, Jalan Veteran, Kabanjahe, Senin (30/03/2026) malam.
Dalam diskusi yang berlangsung hingga Selasa (31/03/2026) sekira pukul 02.46 WIB, Bupati Karo yang didampingi Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karo, Michael Purba, S.STP., menegaskan bahwa kehadiran program HDDAP dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia harus dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan produktivitas, kualitas, serta nilai tambah produk pertanian.
“Kita sama-sama bangga Kabupaten Karo adalah lumbung hortikultura Indonesia. Program HDDAP ini harus kita sukseskan bersama untuk meningkatkan pendapatan petani hortikultura,” tegas Bupati.
Ia juga mengimbau seluruh pihak untuk berperan aktif, taat asas, dan mematuhi aturan dalam pelaksanaan program ini. Dengan sinergi antara pemerintah, petani, dan seluruh pemangku kepentingan, Kabupaten Karo diharapkan semakin memperkuat posisinya sebagai daerah unggulan dalam sektor agribisnis hortikultura di Indonesia.
Bupati Karo turut menekankan pentingnya komitmen bersama antara pemerintah dan petani dalam menjalankan program tersebut. Ia berencana memberikan pengarahan langsung kepada para petani yang terlibat agar memiliki pemahaman yang kuat serta semangat dalam menjalankan program secara berkelanjutan.
“Menuju Karo unggul dan Karo sejahtera, kita harus bekerja bersama. Bisa tidak bisa, harus bisa,” tegasnya.
Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian RI, Freddy, S.T.P., M.Sc., M.P.S., Ph.D., menyebutkan bahwa sebagai daerah lumbung hortikultura nasional, Kabupaten Karo memiliki posisi strategis dalam mendukung dan menyukseskan program HDDAP.
Menurutnya, program ini merupakan langkah strategis dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia yang berfokus pada pengembangan kawasan hortikultura terpadu di lahan kering guna meningkatkan produktivitas, kualitas, serta nilai tambah produk pertanian.
“Program ini harus disukseskan bersama untuk meningkatkan pendapatan petani hortikultura di Kabupaten Karo. Kami berharap Bupati Karo dapat memberikan pengarahan kepada para petani yang terlibat sebagai bentuk penguatan komitmen bersama,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karo, Michael Purba, S.STP., menyampaikan bahwa pihaknya bersama Bupati Karo telah melakukan pembahasan intensif terkait penguatan program pertanian yang akan dikembangkan di daerah tersebut.
Pertemuan tersebut bahkan berlangsung hingga dini hari sebagai bentuk keseriusan dalam merancang langkah strategis pembangunan pertanian di Kabupaten Karo.
“Tepat pukul 02.46 WIB, kami mendapatkan semangat luar biasa dari Pak Bupati untuk terus bekerja maksimal, bahkan hingga pagi hari, demi kemajuan pertanian. Harapannya, energi positif ini menular kepada seluruh petani,” ujar Michael Purba.
Apa itu Program HDDAP ?
Program HDDAP tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga menyentuh penguatan kapasitas petani secara menyeluruh, baik dari sisi teknis maupun kelembagaan ekonomi.
Di sektor teknis, penguatan dilakukan melalui penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dan Good Handling Practices (GHP) agar produk memenuhi standar internasional, penerapan pertanian cerdas iklim (Climate Smart Agriculture/CSA) dengan penggunaan benih tahan kekeringan serta sistem irigasi hemat air seperti drip irrigation, digitalisasi pertanian melalui aplikasi pemantauan lahan untuk meningkatkan ketertelusuran (traceability), serta mekanisasi pertanian guna meningkatkan efisiensi kerja.
Dari sisi kelembagaan ekonomi, petani didorong untuk tidak bergerak secara individu, melainkan dalam kelompok yang lebih kuat melalui pembentukan korporasi petani berbasis Gapoktan, koperasi, atau BUMDes berbadan hukum.
Selain itu, akses pembiayaan diperluas melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan lembaga pendanaan, kemitraan dengan offtaker atau eksportir untuk menjamin kepastian harga, serta pengembangan hilirisasi produk guna menciptakan nilai tambah, seperti pengolahan hasil panen menjadi produk olahan.(karodaily/nanang)









