
Mengungkap yang Terluput dari Riuh Berita oleh: Nanang, jurnalis KARODAILY.id

KARODAILY.id, Berastagi – Di sebuah ruang perawatan, seorang anak terbaring dengan selang oksigen. Di sampingnya, keluarga menunggu dengan wajah cemas. Sementara di lorong rumah sakit, suasana masih dipenuhi kekhawatiran setelah ratusan pelajar mengalami gangguan kesehatan usai menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (13/8/2026).
Di tengah suasana itu, Bupati Karo Brigjen Pol (Purn) Dr. dr. Antonius Ginting, Sp.OG., M.Kes., datang bukan sekadar untuk menerima laporan.
Ia datang untuk melihat sendiri.
Bersama jajaran Forkopimda Kabupaten Karo, Antonius mendatangi sejumlah fasilitas kesehatan tempat para pelajar menjalani perawatan, di antaranya RS Efarina Etaham dan RS Amanda Berastagi.
Langkahnya tidak berhenti di pintu ruang perawatan. Satu per satu pasien dihampirinya.
Ia menyapa, menanyakan kondisi mereka, berbicara dengan keluarga, lalu berkoordinasi dengan tenaga medis mengenai perkembangan kesehatan para siswa.
Sebagai seorang dokter spesialis, perhatian Antonius terlihat cukup detail. Ia berdiskusi dengan tenaga kesehatan mengenai penanganan pasien dan memastikan kebutuhan mereka selama menjalani perawatan terpenuhi.
Pada sejumlah pasien, ia bahkan terlihat membantu menyesuaikan posisi selang oksigen serta meminta tenaga medis memberikan perhatian kepada siswa yang masih membutuhkan penanganan.
Namun, ada sesuatu yang lebih sederhana dari semua itu yang justru terasa menyentuh.
Antonius menjabat tangan para siswa.
Ada yang ditanya bagaimana kondisinya. Ada yang ditenangkan. Ada pula yang mendapat usapan lembut di kepala.
Bagi orang dewasa, mungkin itu hanya sebuah sentuhan kecil.
Tetapi bagi seorang anak yang sedang sakit, jauh dari rumah dan berada di tengah suasana rumah sakit yang penuh ketidakpastian, perhatian sederhana seperti itu bisa berarti besar.
Di sana, Bupati Karo tidak hanya terlihat sebagai seorang pejabat.
Ia hadir sebagai seorang dokter, sebagai orang dewasa, dan sebagai seseorang yang ingin memastikan anak-anak itu tidak merasa sendirian.
Jurnalis KARODAILY.id yang mengikuti langsung kunjungan tersebut melihat bagaimana Antonius berusaha mendekatkan diri kepada para siswa. Ia mendengarkan, bertanya dan memastikan penanganan mereka berjalan dengan baik.
Di balik angka ratusan pasien, sesungguhnya ada cerita yang jauh lebih manusiawi.
Ada anak-anak yang menahan sakit.
Ada orang tua yang tidak tenang.
Ada keluarga yang terus menunggu kabar perkembangan kondisi anaknya.
Dan ada harapan yang sama dari semua keluarga itu: anak mereka segera sembuh.
Karena itulah, kehadiran seorang kepala daerah di ruang perawatan bukan sekadar formalitas. Dalam keadaan seperti ini, kehadiran dapat menjadi bentuk kepedulian yang nyata.
Di balik riuhnya perdebatan

Peristiwa tersebut kemudian menjadi perhatian luas. Pernyataan Bupati Karo yang beredar di media sosial sempat menimbulkan beragam tafsir dan perdebatan di kalangan netizen.
Namun, jika melihat keseluruhan peristiwa, pernyataan tersebut tidak berdiri sendiri.
Ada tindakan nyata yang lebih dahulu dilakukan Antonius.
Ia datang langsung ke rumah sakit, melihat kondisi para siswa, berbicara dengan tenaga medis, mendengarkan keluarga, dan memastikan anak-anak yang terdampak mendapatkan penanganan.
Ketika ia menyampaikan kalimat tidak “mengkhawatirkan” , konteksnya adalah karena para siswa telah berada dalam penanganan medis dan terus dipantau.
Begitu pula ketika menyampaikan tentang “kabar baik”.
Kabar baik yang dimaksud adalah kondisi para siswa yang mulai mendapat penanganan dan berangsur membaik.
Ia tidak ingin kekhawatiran berkembang menjadi kepanikan yang lebih besar, sementara para siswa sedang mendapatkan perawatan sesuai kebutuhan medis.
Di balik perdebatan di media sosial, apa yang terlihat di lapangan justru menunjukkan perhatian yang terus diberikan kepada para pelajar.
Sejak laporan kejadian sampai ke telinganya, Antonius langsung datang, melihat, mendengar dan memastikan. Dan, itu juga ia lakukan keesokan harinya.
Bagi anak yang sedang terbaring di rumah sakit, tentu obat dan penanganan medis adalah yang utama.
Tetapi rasa aman juga memiliki arti.
Genggaman tangan, sapaan sederhana atau usapan di kepala memang tidak dapat menyembuhkan penyakit. Namun, perhatian kecil itu dapat memberikan kekuatan kepada seorang anak yang sedang menghadapi rasa takut.
Dan mungkin, itulah makna lain dari sebuah kunjungan.
Bukan hanya memastikan apakah obat sudah diberikan atau apakah kondisi pasien membaik, tetapi juga menunjukkan kepada mereka bahwa ada orang-orang yang peduli.
Peristiwa ini tetap harus ditindaklanjuti secara serius. Pemeriksaan medis dan investigasi perlu dilakukan untuk mengetahui penyebab gangguan kesehatan yang dialami para siswa.
Namun, di tengah proses tersebut, satu hal tidak boleh dilupakan.
Mereka bukan sekadar angka dalam laporan.
Mereka adalah anak-anak Karo.
Di balik setiap pasien ada wajah seorang anak. Ada orang tua yang cemas. Ada keluarga yang menunggu. Dan ada doa agar mereka segera pulang dalam keadaan sehat.
Maka, ketika seorang Bupati datang menghampiri, menjabat tangan, bertanya tentang keadaan dan mengusap kepala mereka, mungkin tidak banyak yang berubah secara langsung.
Tetapi setidaknya, ada satu pesan yang sampai kepada anak-anak itu:
Kalian tidak sendirian.
Pemerintah Kabupaten Karo ada bersama kalian.(*).








